Lamongan, 18/08/2017 Tribratanewslamongan.com – Kasat Reskrim Polres Lamongan AKP Yadwivana Jumbo Qantasson S.I.K melakukan uji coba langsung dengan melarutkan beberapa sample garam ber merk Dua Anak, Ibu Bijak, Krakatau dan beberapa merk lainnya. Setelah dilakukan pelarutan ternyata memang larut meski agak lama larutnya di karenakan garam tersebut adalah Garam yang berasal dari Australia. Berikut video uji coba Kasat reskrim terkait pelarutan garam yang di isukan dicampur dengan kaca.

Pemerintah Kabupaten Lamongan bersama Kepolisian Resort Lamongan berkoordinasi dengan Diseprindag gencar mengintensifkan pengawasan terhadap peredaran garam di wilayah setempat, karena adanya laporan temuan garam yang diduga bercampur kaca.
“Kami memang menerima laporan temuan garam bercampur kaca, tepatnya di Kecamatan Solokuro. Namun, setelah kami periksa di laboratorium tidak ada,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lamongan, Muhammad Zamroni, Kamis (10/8/2017). Bersama tim Disperindag dan Unit Pelaksana Tugas (UPT) Perlindungan Konsumen dan Dinas Kesehatan telah mendatangi lokasi temuan dan langsung memeriksa garam temuan warga.

Kasat Reskrim menghimbau masyarakat agar tidak perlu khawatir, terhadap isu beredarnya garam yang diduga bercampur bubuk kristal kaca, karena memang mirip kristal, tapi masih garam hanya saja memang keras. “ Memang ada sebagian yang keras meski lama larut tetapi tidak ada campuran Kristal ataupun kaca” ujar AKP Yadwivana Jumbo Qantasson S.I.K. Selain Kasat Reskrim melakukan uji coba langsung, Unit Reskrim juga melakukan pengawasan dengan mendatanagi langsung penjual penjual garam di Pasar Sidoharjo.

Zamroni mengatakan, setelah diperiksa dengan memasukkan garam itu ke dalam gelas untuk diaduk, hasilnya semua unsur larut dan disimpulkan tidak ada unsur kaca pada garam tersebut. Meski tidak ada unsur kaca, garam temuan warga itu awalnya sulit larut, karena merupakan garam produk lama yang dijual kembali ke masyarakat. “Oleh karena itu, kami saat ini terus melakukan pengawasan, agar hal itu tidak terjadi lagi, sebab tingginya harga garam membuat masyarakat panik,” ujarnya. “Kami bersama UPT Perlindungan Konsumen dari Bojonegoro, dan juga dari Dinas Kesehatan Lamongan langsung mendatangi Desa Takerharjo, Kecamatan Solokuro dimana garam diduga bercampur kaca tersebut,” tuturnya.

LEAVE A REPLY